Seperti sabtu malam sebelumya, terasa sangat hambar. Hanya ditemani sebuah layar lipat dan iTunes yang di-play berkali-kali. Sesekali mengecek twitter, berharap ada event menarik untuk mengisi kekosongan malam ini. Scroll timeline terus berjalan dan terhenti di sebuah tweet @endahNrhesa. Yah, ternyata malam ini mereka mengisi acara di sebuah acara nonton bareng film cita-citaku setinggi tanah di SMA Van Lith, Muntilan.
Dari judul-nya saja, film ini terasa sangat menarik. Dan saya memutuskan harus menghadiri acara nonton bareng film yang bakal rilis 11 Oktober mendatang. Berbekal keberanian (karna hanya sendiri dan tidak tahu lokasinya) saya menyusuri jalan sejauh 19km dari rumah ke arah barat, karna memang rumah saya berada di Jogja.
Sesampai disana telah penuh sesak dengan anak-anak muda yang sepertinya pelajar dari Van Lith itu sendiri. OKE, tampaknya saya datang terlambat, tempat duduk yang telah disediakan penuh sesak dan terpaksa harus berdiri. Its ok, nikmati film.
Berikut review dari saya :
Film garapan Eugene Panji ini bercerita tentang seorang anak bernama Agus yang berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Ayah Agus di sebuah pabrik tahu dan Ibunya sebagai pembuat tahu bacem.
Agus yang masih mengenyam pendidikan di sebuah sekolah dasar, ditugaskan oleh gurunya untuk membuat karangan tentang cita-cita yang ingin ia capai dimasa yang akan datang. Ke-3 sahabat Agus memiliki cita-cita setinggi langit. Jono bercita-cita menjadi seorang tentara, Sri ingin menjadi artis dan Puji yang ingin membahagiakan orang lain. Sedangkan Agus sendiri mempunyai cita-cita yang menarik “ingin makan di rumah makan padang” karna memang setiap harinya ia makan dengan tahu bacem buatan ibunya.
Demi cita-citanya itulah ia bekerja keras dengan menyisihkan uang jajannya untuk ditabung. Ia juga bekerja selepas pulang sekolah yang hasilnya akan ia tabung di sebuah celengan bambu buatannya sendiri. Sampai suatu ketika celengan bambunya masuk ke dalam sumur karena tersenggol saat Agus diperintah ibunya untuk menimba air. (to be continue yah, biar penasaran)
Unsur pedesaan nan-asri sangat kental di film ini, karna memang berlatar belakang sebuah desa di Muntilan, Jawa Tengah. Sungai dan sawah yang membentang menjadi hiasan yang sangat menarik. Begitupula sepeda ontel dan bangunan tua Van Lith yang menambah daya tarik.
“Hampir semua lagu yang kami isi dalam film ini”, ujar Endah dalam obrolan face to face. Semua lagu berbahasa indonesia dan Endah N Rhesa berencana akan membuat full album sountrack pertama di Indonesia.
Perlu diketahui pula, ini merupakan produksi film indie yang siap untuk go internasional karna telah dilengkapi dengan subtitle berbahasa english. Dan satu hal yang membuat takjub, meskipun notabene film indie yang minim akan dana tetapi nantinya, secara keseluruhan dari hasil penjualan tiket akan disumbangkan bagi anak-anak penderita kangker. So noble guys!
Setelah puas menonton film, berfoto dan ngobrol bersama Endah N Rhesa akhirnya saya memutuskan untuk pulang. “Sebuah keberuntungan di sabtu malam”, tutur saya dalam hati.
Terima kasih kepada tim Cita-Citaku Setinggi Tanah serta SMA Van Lith yang telah menyelenggarakan acara nonton bareng secara free dan menyuguhkan berbagai macam makanan secara cuma-cuma. Dan terimakasih pula saya haturkan kepada mas gondrong berbaju deathrockstar (crew film CCST) yang telah men-take foto saya bersama Endah N Rhesa. *maaf saya panggil “mbak” karna rambut anda gondrong.
Penasaran dengan ceritanya kan? Film ini untuk semua kalangan dan tanpa pandang bulu. Kalian wajib menonton film ini. Be patient for 11 Oktober 2012 Guys !
Yang penasaran dengan film ini, kalian bisa mem-follow @CCSTthemovie atau mengunjungi website mereka disini ataupun tentang trailler HD-nya disini

Suasana Van Lith Seusai Pemutaran Film CCST

Perform Endah N Rhesa

Mas Rhesa Aditya, saya dan Mbak Endah Widiastuti *dari kanan